Hospital Vulnerability Assesmen dalam SNARS 2018

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Keadaan darurat bisa diartikan dalam beberapa definisi yang berbeda-beda tergantung pada latar belakang dan konteks kejadiannya. Akan tetapi pada dasarnya semua mengandung pengertian yang sama, yaitu suatu kejadian yang tidak direncanakan dan tidak diharapkan yang dapat membahayakan jiwa dan kesehatan baik manusia maupun makhluk hidup lain, serta menimbulkan kerusakan pada bangunan, harta benda, dan lain-lain. Arti lain dari darurat adalah situasi yang tidak dikehendaki, mendadak dan berkembang secara cepat sehingga menimbulkan bahaya yang mengancam keselamatan manusia, kerugian asset perusahaan dan kerusakan lingkungan. Kondisi semacam ini harus segera diatasi agar terhindar dari dampak lebih buruk.

Meskipun berbagai usaha pencegahan sudah dilakukan, diorganisasi dan dikelola secara baik, akan tetapi keadaan darurat masih saja terjadi. Untuk itu kita harus selalu mengembangkan kemampuan kita tentang bagaimana memanage keadaan darurat mulai dari persiapan, latihan dan penanggulangan darurat sampai pada bagaimana mencegah terjadinya atau terulangnya keadaan darurat.

Perencanaan merupakan kata kunci untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga perencanaan dalam hal ini mempunyai peran yang luar biasa. Tindakan pencegahan dan persiapan-persiapan jika terjadi keadaan dadudat, latihan, dan simulasi tanggap darurat, manajemen tanggap darurat, dan sampai pada pemulihan kondisi pada keadaan darurat.

HVA (Hazard Vulnerability Analysis Tool/ Alat Analisa Resiko Bencana Rumah Sakit) adalah standar MFK.6 Akreditasi RS 2012/ JCI FMS. 6 mensyaratkan rumah sakit untuk menentukan jenis, kemungkinan terhadap konsekuensi bahaya, ancaman, dan kejadian bencana. Syarat tersebut dapat dipenuhi dengan mudah, ada alat manajemen resiko yang dapat membantu kita, yaitu yang disebut Hazard Vulnerability Analysis (HVA) Tool. Continue reading

Advertisements
Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , ,

Panduan Sanitasi Udara Rumah Sakit

BAB I DEFINISI

HEPA

HEPA filter terutama digunakan dikamar bedah dari kompleks ruang operasi. Filter udara ini harus dapat menyaring partikel udara lebih besar dari 0,3 mikron yang melewatinya dengan effisiensi 99,97% udara.

Infilterasi

Laju aliran udara tak terkendalikan dan tidak disengaja masuk kedalam gedung melalui cela dan bukaan lainnya dan akibat penggunaan pintu luar gedung. Infiltrasi disebut juga sebagai kebocoran udara kedalam gedung. Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , ,

Arah Kebijakan Perumahsakitan di Tahun 2019

Latar Belakang dan Permasalahan Pelayanan Kesehatan

Belum optimalnya pemanfaatan kompetensi Fasilitas Kesehatan dikarenakan terjadinya maldistribusi kompetensi fasilitas kesehatan :

  1. sebaran distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata
  2. kelas rumah sakit tidak menggambarkan kompetensi yang sebenarnya
  3. kesesuaian rumah sakit dengan kriteria klasifikasi
  4. ketersediaan jumlah dan jenis SDM yang terbatas
  5. pelayanan kesehatan belum optimal

Dasar Peraturan tentang Rumah Sakit di Indonesia diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit terdapat beberapa penjelasan kaitan yaitu :

  1. setiap penyelenggara rumah sakit wajib memiliki izin setelah memenuhi persyaratan.
  2. izin terdiri dari izin mendirikan dan izin operasional
  3. izin mendirikan untuk jangka waktu 2 tahun dan dapat diperpanjang 1 tahun
  4. izin operasional untuk jangka waktu 5 9lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan,
  5. izin RS kelas A, PMA dan PMDN diberikan menteri kesehatan setelah mendapatkan rekomendasi dari dinas kesehatan propinsi (PMA dan PMDN) juga harus mendapatkan rekomendasi dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal).
  6. izin RS kelas B diberikan oleh Pemda Propinsi, setelah mendapat rekomendasi dari Dinkes daerah Kabupaten/Kota
  7. izin RS kelas C dan D diberikan oleh pemda Kabupaten / Kota setelah mendapat rekomendasi Dinkes daerah Kabupaten dan Kota.
  8. Ketentuan lebih lanjut mengenai perijinan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 56 Tahun 2014

To be Continue …

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , ,

HOSPITAL BY LAW, Upaya Ketahanan Nasional Bidang Kesehatan yang telah Hilang

“ Sejak disahkan Permenkes 755 tahun 2011 tentang Komite Medik dimana Permenkes ini mencabut Kepmenkes 722 tahun 2002 tentang Pedoman Penyusunan Hospital by Law dan Kepmenkes 631 tahun 2005 tentang Medical Staf by Law, Pemerintah telah membiarkan terjadinya kekosongan regulasi strategis dibidang perumahsakitan.”

Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , , ,

Panduan deteksi Kebakaran di Rumah Sakit

BAB I

DEFINISI

Sistem Proteksi Kebakaran

Sistem proteksi kebakaran aktif adalah suatu sistem yang berguna untuk memberitahukan dan atau memadamkan api baik secara manual dan otomatis yang meliputi :

  1. Detektor Asap, Api maupun Panas.
  2. Alarm kebakaran otomatis maupun manual.
  3. Tabung Pemadam / APAR (Alat Pemadam Api Ringan).
  4. Sistem Hidran.
  5. Sistem Springkler

Fire alarm adalah alat untuk mendeteksi adanya api.

Fire Alarm atau alat pendeteksi api merupakan salah satu alat instrument berupa sensor yang dapat mendeteksi nilai instensitas dan frekuensi api dalam suatu proses pembakaran, dalam hal ini pembakaran dalam boiler pada pembangkit listrik tenaga uap. Flame detector dapat mendeteksi kedua hal tersebut dikarenakan oleh komponen-komponen pendukung dari flame detector tersebut. Cara kerja flame detector mampu bekerja dengan baik untuk menangkap nyala api untuk mencegah kebakaran.Kebanyakan cara kerja flame detector untuk mengidentifikasi / mendeteksi api dengan menggunakan metode optik seperti ultraviolet (infrared (spectroscopy dan  pencitraan visual flame). Cara kerja flame detector dirancang untuk mendeteksi penyerapan cahaya pada panjang gelombang tertentu, yang memungkinkan alat ini untuk membedakan antara spectrum cahaya pada api dan sumber alarm palsu.%larm palsu yang dimaksud yang disebabkan oleh adanya petir, radiasi dan panas matahari yang memungkinakan mengaktifkan flame detector. &amun dengan berkembangnya teknologi cara kerja flame detector lebih pandai dalam menangkap percikan api yang dapat menyebabkan kebakaran. Cara kerja Flame detector abad ini dirancang dengan sistem delay selama 10 detik pada detektor ini sehingga mampu mendeteksi sumber kebakaran lebih dini dan memungkinkan tidak terjadi sumber alarm palsu

Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , , ,

Telaah Peraturan BPJS Kesehatan No 1 Tahun 2018 tentang Penilaian Kegawatdaruratan dan Prosedur Penggantian Biaya Pelayanan Gawat Darurat

Hasil Kajian:

“ Peraturan BPJS No 1 Tahun 2018 merupakan Amanat Perpres No 19 tahun 2016 tentang jaminan Kesehatan Pasal 40 yang merupakan perubahan atas Perpres 12 Tahun 2013, BPJS Kesehatan wajib mengeluarkan Peraturan BPJS Kesehatan tentang penilaian kegawatdaruratan dan prosedur penggantian biaya pelayanan gawat darurat. BPJS Kesehatan telah memerankan tugas pokok dan fungsinya dengan hanya menetapkan kriteria gawat darurat saja dan bukan menetapkan tentang diagnosa kegawatdaruratan “ 

Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , ,

Kebijakan Cara Penilaian dalam SNARS KARS 2018

 

  1. Pemberian skoring
    • Setiap Elemen Penilaian diberi skor 0 atau 5 atau 10, sesuai pemenuhan rumah sakit pada elemen penilaian (EP)
    • Nilai setiap standar yang ada di bab merupakan penjumlahan dari nilai elemen penilaian
    • Nilai dari standar dijumlahkan menjadi nilai untuk bab
    • Elemen penilaian yang tidak dapat diterapkan (TDD) tidak diberikan skor dan mengurangi jumlah EP

Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , ,