HOSPITAL BY LAW, Upaya Ketahanan Nasional Bidang Kesehatan yang telah Hilang

“ Sejak disahkan Permenkes 755 tahun 2011 tentang Komite Medik dimana Permenkes ini mencabut Kepmenkes 722 tahun 2002 tentang Pedoman Penyusunan Hospital by Law dan Kepmenkes 631 tahun 2005 tentang Medical Staf by Law, Pemerintah telah membiarkan terjadinya kekosongan regulasi strategis dibidang perumahsakitan.”

Continue reading

Advertisements
Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , , ,

Resume Pertanyaan Surveior dalam SNARS

INSTALASI RAWAT INAP I

PERAWAT 

  1. Disini ruangan apa? Merawat pasien dengan kasus apa?
  2. Metode Pemberian Asuhan Keperawatan dengan apa?
  3. Jumlah pasiennya ada berapa?
  4. Ka Tim/PJ Shiffnya siapa?
  5. Ada UTW nya?Kewenangan Klinisnya?
  6. Pasien ini sudah 3 hari di rawat, edukasi apa saja yang sudah dilakukan?
  7. Bukti pemberian edukasi mana?
  8. Siapa yang mengkonsulkan pasien bila ternyata kasusnya bedah/dalam?
  9. Bagaimana caranya lapor dengan tehnik SBAR?Praktek cara lapor via telp.
  • Bila pasien dari awal datang ada skala nyeri, apa yang akan dilakukan?
  • Kapan dilakukan pengkajian resiko pasien jatuh?
  • Bila dilakukan transfuse darah, dimana observasi dan pencatatannya?
  • Ada berapa momen cuci tangan?
  • Berapa langkah?
  • Coba praktekkan semua!
  • Apakah tau Hak Kewajiban Pasien?
  • Bagaimana bila ada muntahan atau tercecer darah?
  • Kalau dalam 1 hari 2×1 berarti obat diminum jam berapa saja?

 

PASIEN & KELUARGA

  1. Apa yang dilakukan perawat/ petugas kesehatan disini pada bapak/ ibu/mbak/mas?
  2. Sudah diajari cuci tangan?
  3. Sudah diberi tahu tentang apa saja?
  4. Bisa cara mempraktekkan?
  5. Apa gunanya gelang identitas?
  6. Siapa nama perawat yang merawat bapak/ibu?
  7. Apakah diberi tau cara minum obat dan efek sampingnya?
  8. Ibu dapat obat apa saja? Untuk apa obat itu?

INSTALASI RAWAT INAP II

PERAWAT

  1. Disini ruangan apa? Merawat pasien dengan kasus apa?
  2. Metode Pemberian Asuhan Keperawatan dengan apa?
  3. Jumlah pasiennya ada berapa?
  4. Ka Tim/PJ Shiffnya siapa?
  5. Ada UTW nya?Kewenangan Klinisnya?
  6. Pasien ini sudah 3 hari di rawat, edukasi apa saja yang sudah dilakukan?
  7. Bukti pemberian edukasi mana?
  8. Siapa yang mengkonsulkan pasien bila ternyata kasusnya bedah/dalam?
  9. Bagaimana caranya lapor dengan tehnik SBAR?Praktek cara lapor via telp.
  10. Bila pasien dari awal datang ada skala nyeri, apa yang akan dilakukan?
  11. Kapan dilakukan pengkajian resiko pasien jatuh?
  12. Bila dilakukan transfuse darah, dimana observasi dan pencatatannya?
  13. Ada berapa momen cuci tangan?
  14. Berapa langkah?
  15. Coba praktekkan semua!
  16. Apakah dan Hak Kewajiban Pasien?
  17. Bagaimana bila ada muntahan atau tercecer darah?
  18. Kalau dalam 1 hari 2×1 berarti obat diminum jam berapa saja?
  19. Bila ada pasien menghendaki pelayanan kerohanian dari luar bagaimana?
  20. Bagaimana kita tau obat injeksi/oral sudah diberikan ke pasien, dilakukan double check?
  21. Bagaimana pengendalian suhu dan kelembaban ruang peracikan obat di ruangan? Suhu lemari es?
  22. Dicatat dimana? Tindak lanjut bila tidak sesuai standar suhu?
  23. APD yang digunakan?
  24. Bagaimana cara pembuangan jarum pada safety box?
  25. Apa saja yang boleh dibuang pada sampah B3?
  26. Coba cuci tangan bersama
  27. Pelayanan profesi lain ditulis dimana?

 

PASIEN & KELUARGA

  1. Apa yang dilakukan perawat/ petugas kesehatan disini pada bapak/ ibu/mbak/mas?
  2. Sudah diajari cuci tangan?
  3. Sudah diberi tahu tentang apa saja?
  4. Bisa cara mempraktekkan?
  5. Apa gunanya gelang identitas?
  6. Siapa nama perawat yang merawat bapak/ibu?
  7. Apakah diberi tau cara minum obat dan efek sampingnya?
  8. Obatnya dapat berapa? Apa saja? Untuk apa?
Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , | Leave a comment

Daftar Pertanyaan SNARS untuk PPA Dokter

DAFTAR PERTANYAAN TELUSUR KKS DOKTER

  1. Tujuan

Tujuan wawancara ini untuk mengkaji komunikasi di antara PPA Dokter di  rumah sakit dalam rangka menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pelayanan klinis dokter, dokter gigi dan dokter spesialis

Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , | Leave a comment

Wawancara SNARS pada Komite Medik

WAWANCARA KOMITE MEDIK

  1. Tujuan

Tujuan wawancara ini untuk mengkaji komunikasi di antara pimpinan komite medik rumah sakit dalam rangka menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pelayanan klinis dokter, dokter gigi dan dokter spesialis

Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , | Leave a comment

Hospital Vulnerability Assesmen dalam SNARS 2018

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Keadaan darurat bisa diartikan dalam beberapa definisi yang berbeda-beda tergantung pada latar belakang dan konteks kejadiannya. Akan tetapi pada dasarnya semua mengandung pengertian yang sama, yaitu suatu kejadian yang tidak direncanakan dan tidak diharapkan yang dapat membahayakan jiwa dan kesehatan baik manusia maupun makhluk hidup lain, serta menimbulkan kerusakan pada bangunan, harta benda, dan lain-lain. Arti lain dari darurat adalah situasi yang tidak dikehendaki, mendadak dan berkembang secara cepat sehingga menimbulkan bahaya yang mengancam keselamatan manusia, kerugian asset perusahaan dan kerusakan lingkungan. Kondisi semacam ini harus segera diatasi agar terhindar dari dampak lebih buruk.

Meskipun berbagai usaha pencegahan sudah dilakukan, diorganisasi dan dikelola secara baik, akan tetapi keadaan darurat masih saja terjadi. Untuk itu kita harus selalu mengembangkan kemampuan kita tentang bagaimana memanage keadaan darurat mulai dari persiapan, latihan dan penanggulangan darurat sampai pada bagaimana mencegah terjadinya atau terulangnya keadaan darurat.

Perencanaan merupakan kata kunci untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga perencanaan dalam hal ini mempunyai peran yang luar biasa. Tindakan pencegahan dan persiapan-persiapan jika terjadi keadaan dadudat, latihan, dan simulasi tanggap darurat, manajemen tanggap darurat, dan sampai pada pemulihan kondisi pada keadaan darurat.

HVA (Hazard Vulnerability Analysis Tool/ Alat Analisa Resiko Bencana Rumah Sakit) adalah standar MFK.6 Akreditasi RS 2012/ JCI FMS. 6 mensyaratkan rumah sakit untuk menentukan jenis, kemungkinan terhadap konsekuensi bahaya, ancaman, dan kejadian bencana. Syarat tersebut dapat dipenuhi dengan mudah, ada alat manajemen resiko yang dapat membantu kita, yaitu yang disebut Hazard Vulnerability Analysis (HVA) Tool. Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Panduan Sanitasi Udara Rumah Sakit

BAB I DEFINISI

HEPA

HEPA filter terutama digunakan dikamar bedah dari kompleks ruang operasi. Filter udara ini harus dapat menyaring partikel udara lebih besar dari 0,3 mikron yang melewatinya dengan effisiensi 99,97% udara.

Infilterasi

Laju aliran udara tak terkendalikan dan tidak disengaja masuk kedalam gedung melalui cela dan bukaan lainnya dan akibat penggunaan pintu luar gedung. Infiltrasi disebut juga sebagai kebocoran udara kedalam gedung. Continue reading

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Arah Kebijakan Perumahsakitan di Tahun 2019

Latar Belakang dan Permasalahan Pelayanan Kesehatan

Belum optimalnya pemanfaatan kompetensi Fasilitas Kesehatan dikarenakan terjadinya maldistribusi kompetensi fasilitas kesehatan :

  1. sebaran distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata
  2. kelas rumah sakit tidak menggambarkan kompetensi yang sebenarnya
  3. kesesuaian rumah sakit dengan kriteria klasifikasi
  4. ketersediaan jumlah dan jenis SDM yang terbatas
  5. pelayanan kesehatan belum optimal

Dasar Peraturan tentang Rumah Sakit di Indonesia diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit terdapat beberapa penjelasan kaitan yaitu :

  1. setiap penyelenggara rumah sakit wajib memiliki izin setelah memenuhi persyaratan.
  2. izin terdiri dari izin mendirikan dan izin operasional
  3. izin mendirikan untuk jangka waktu 2 tahun dan dapat diperpanjang 1 tahun
  4. izin operasional untuk jangka waktu 5 9lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan,
  5. izin RS kelas A, PMA dan PMDN diberikan menteri kesehatan setelah mendapatkan rekomendasi dari dinas kesehatan propinsi (PMA dan PMDN) juga harus mendapatkan rekomendasi dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal).
  6. izin RS kelas B diberikan oleh Pemda Propinsi, setelah mendapat rekomendasi dari Dinkes daerah Kabupaten/Kota
  7. izin RS kelas C dan D diberikan oleh pemda Kabupaten / Kota setelah mendapat rekomendasi Dinkes daerah Kabupaten dan Kota.
  8. Ketentuan lebih lanjut mengenai perijinan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 56 Tahun 2014

To be Continue …

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , ,