PERSYARATAN PRAKTIK MANDIRI BIDAN

PERSYARATAN PRAKTIK MANDIRI BIDAN

PERSYARATAN BANGUNAN TEMPAT PRAKTIK

  1. Merupakan bangunan permanen dan menetap
  2. Dinding dan lantai tempat praktik berwarna terang, tidak berpori dan mudah dibersihkan.
  3. Lantai tempat praktik tidak licin, tidak berpori dan mudah dibersihkan
  4. Akses/pintu keluar masuk ke ruang praktik terpisah dari rumah tinggal keluarga.
  5. Memiliki ruang tunggu, ruang periksa, ruang bersalin, ruang nifas/rawat inap, kamar mandi/WC, ruang pemrosesan alat dengan syarat- syarat tertentu.

PERSYARATAN RUANG PRAKTIK

Ruang tunggu

  1. Ruangan bersih dan nyaman
  2. Dilengkapi dengan bangku tunggu
  3. Tersedia media informasi kesehatan

Ruang Periksa

  1. Ukuran minimal 3×2 m2
  2. Dinding dan lantai terbuat dari bahan yang tidak tembus air dan mudah dibersihkan, keras, rata, tidak licin.
  3. Ruangan bersih dan tidak berdebu
  4. Dilengkapi tempat tidur untuk pemeriksaan dengan ukuran sesuai standar, meja dan kursi
  5. Tersedia tempat untuk mencuci tangan dengan air mengalir dan tersedia sabun atau antiseptik
  6. Tersedia media informasi kesehatan ibu dan anak.

Ruang Tindakan

  1. Ukuran minimal 3 x 4 m2 untuk 1 (satu) tempat tidur persalinan dengan ukuran sesuai standar
  2. Dinding dan lantai terbuat dari bahan yang tidak tembus air dan mudah dibersihkan, keras, rata, tidak licin
  3. Akses keluar masuk pasien lebar minimal 90 cm
  4. Ruangan bersih dan tidak berdebu
  5. Tersedia meja resusitasi untuk neonatal dan set resusitasi.
  6. Tersedia tempat untuk mencuci tangan dengan air mengalir dan tersedia sabun atau antiseptik

Ruang Nifas

  1. Ukuran minimal 2×3 m untuk 1 tempat tidur
  2. Jumlah tempat tidur maksimal 5 (lima) tempat tidur disesuaikan dengan luas ruangan.
  3. Dinding dan lantai terbuat dari bahan yang tidak tembus air dan mudah dibersihkan, keras, rata, tidak licin.
  4. Akses keluar masuk pasien lebar minimal 90 cm.
  5. Ruangan bersih dan tidak berdebu.
  6. Tersedia tempat untuk mencuci tangan dengan air mengalir dan tersedia sabun atau antiseptik.

Kamar Mandi/WC

  1. Dinding dan lantai terbuat dari bahan yang tidak tembus air dan mudah dibersihkan, keras, rata, tidak licin.
  2. Pintu terbuka keluar, lebar daun pintu minimal 90 cm, mudah dibuka dan ditutup.
  3. Dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail), kloset diutamakan kloset duduk.
  4. Tersedia shower/gayung

Ruang Pemrosesan Barang Limbah

  1. Dinding dan lantai terbuat dari bahan yang tidak tembus air dan mudah dibersihkan, keras, rata, tidak licin.
  2. Tersedia wastafel khusus pencucian alat dengan air mengalir
  3. Tersedia alat dan tempat pemrosesan alat sesuai standar.
  4. Untuk pengelolaan limbah padat tersedia tempat sampah tertutup yang terpisah untuk limbah medis dan limbah domestik, dilapisi kantong plastik. Limbah medis yang infeksius hanya boleh disimpan maksimal 48 jam.
  5. Untuk pengelolaan limbah cair diperlukan septic tank yang kedap air terpisah dari limbah rumah tangga

Persyaratan Prasarana

  1. Sirkulasi udara 15% x Luas lantai (dalam hal tidak terpenuhi 15%, maka bisa ditambah alat pengatur sirkulasi udara seperti: AC, kipas angin)
  2. Cahaya terang dan tidak menyilaukan
  3. Pintu dapat dikunci, dan terbuka keluar
  4. Tersedia sketsel, gorden yang mudah dibersihkan
  5. Tersedia air mengalir
  6. Tersedia sistem kelistrikan yang sesuai dengan peralatan yang digunakan
  7. Tersedia minimal 1 titik kelistrikan tiap ruangan, sedangkan khusus ruangan tindakan minimal 2.
  8. Tersedia minimal 1 Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dalam kondisi siap pakai
  9. Meubelair

 

 Referensi

Advertisements
Posted in Fasilitas Pelayanan Kesehatan | Tagged , , , , , ,

Pengelolaan Limbah Rumah Sakit

Pengertian

  1. Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas.
  2. Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non medis.
  3. Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah Sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.
  4. Limbah padat non medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya.
  5. Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan.
  6. Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti insinerator, dapur, perlengkapan generator, anastesi dan pembuatan obat citotoksik.
  7. Limbah infeksius adalah limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan.
  8. Limbah sangat infeksius adalah limbah berasal dari pembiakan dan stock bahan sangat infeksius, otopsi, organ binatang percobaan dan bahan lain yang telah diinokulasi, terinfeksi atau kontak dengan bahan yang sangat infeksius.
  9. Limbah sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat sitotoksik untuk kemoterapi kanker yang mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup.
  10. Minimisasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi bahan (reduce), menggunakan kembali limbah (reuse) dan daur ulang limbah (recycle).

Persyaratan

Limbah Medis Padat

Minimisasi Limbah

  • Setiap rumah sakit harus melakukan reduksi limbah dimulai dari sumber.
  • Setiap rumah sakit harus mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia yang berbahaya dan beracun.
  • Setiap rumah sakit harus melakukan pengelolaan stok bahan kimia dan farmasi.
  • Setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan limbah medis mulai dari pengumpulan, pengangkutan, dan pemusnahan harus melalui sertifikasi dari pihak yang berwenang.

Pemilahan, Pewadahan, Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang

  • Pemilahan limbah harus dilakukan mulai dari sumber yang menghasilkan limbah.
  • Limbah yang akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan dari limbah yang tidak dimanfaatkan kembali.
  • Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. Wadah tersebut harus anti bocor, anti tusuk dan tidak mudah untuk dibuka sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat membukanya.
  • Jarum dan syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat digunakan kembali.
  • Limbah medis padat yang akan dimanfaatkan kembali harus melalui proses sterilisasi sesuai Tabel I.10 Untuk menguji efektifitas sterilisasi panas harus dilakukan tes Bacillus stearothermophilus dan untuk sterilisasi kimia harus dilakukan tes Bacillus subtilis.

Tabel I.10

Metode Sterilisasi Untuk Limbah yang Dimanfaatkan Kembali

 

Metode Sterilisasi

Suhu

Waktu Kontak

·    Sterilisasi dengan panas

-Sterilisasi kering dalam oven “Poupinel”

-Sterilisasi basah dalam otoklaf

·    Sterilisasi dengan bahan kimia

Ethylene oxide (gas)

Glutaraldehyde (cair)

 

160ºC

170ºC

121ºC

 

 

 

 

50ºC-60ºC

 

120 menit

60 menit

30 menit

 

 

 

3-8 jam

30 menit

 

  • Limbah jarum hipodermik tidak dianjurkan untuk dimanfaatkan kembali. Apabila rumah sakit tidak mempunyai jarum yang sekali pakai (disposable), limbah jarum hipodermik dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui proses salah satu metode sterilisasi pada Tabel I.10.
  • Pewadahan limbah medis padat harus memenuhi persyaratan dengan penggunaan wadah dan label seperti pada Tabel I.10
  • Daur ulang tidak bisa dilakukan oleh rumah sakit kecuali untuk pemulihan perak yang dihasilkan dari proses film sinar X.
  • Limbah sitotoksis dikumpulkan dalam wadah yang kuat, anti bocor, dan diberi label bertuliskan “Limbah Sitotoksis”.

 

Pengumpulan, Pengangkutan, dan Penyimpanan Limbah Medis Padat di Lingkungan Rumah Sakit

  • Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah menggunakan troli khusus yang tertutup.
  • Penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam.

Pengumpulan, Pengemasan dan Pengangkutan ke Luar Rumah Sakit

  • Pengelola harus mengumpulkan dan mengemas pada tempat yang kuat.
  • Pengangkutan limbah ke luar rumah sakit menggunakan kendaraan khusus.

Jenis Label Limbah Medis

  Pengolahan dan Pemusnahan

  • Limbah medis padat tidak diperbolehkan membuang langsung ke tempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan.
  • Cara dan teknologi pengolahan atau pemusnahan limbah medis padat disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dan jenis limbah medis padat yang ada, dengan pemanasan menggunakan otoklaf atau dengan pembakaran menggunakan

Gambar Limbah Lab

Limbah Non Medis Padat

Pemilahan dan Pewadahan

  • Pewadahan limbah padat non-medis harus dipisahkan dari limbah medis padat dan ditampung dalam kantong plastik warna hitam.
  • Tempat pewadahan
    1. Setiap tempat pewadahan limbah padat harus dilapisi kantong plastik warna hitam sebagai pembungkus limbah padat dengan lambang “domestik” warna putih.
    2. Bila kepadatan lalat di sekitar tempat limbah padat melebihi 2 (dua) ekor per-block grill, perlu dilakukan pengendalian lalat.
    3. Pengumpulan, Penyimpanan, dan Pengangkutan
  • Bila di tempat pengumpulan sementara tingkat kepadatan lalat lebih dari 20 ekor per-block grill atau tikus terlihat pada siang hari, harus dilakukan pengendalian.
  • Dalam keadaan normal harus dilakukan pengendalian serangga dan binatang pengganggu yang lain minimal satu bulan sekali.

Gambar Wadah Tahan Tusuk

Pengolahan dan Pemusnahan

Pengolahan dan pemusnahan limbah padat non-medis harus dilakukan sesuai persyaratan kesehatan.

Limbah Cair

Kualitas limbah (efluen) rumah sakit yang akan dibuang ke badan air atau lingkungan harus memenuhi persyaratan baku mutu efluen sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep–58/MENLH/12/1995 atau peraturan daerah setempat.

Limbah Gas

Standar limbah gas (emisi) dari pengolahan pemusnah limbah medis padat dengan insinerator mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MenLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak.

Tata Laksana

Limbah Medis Padat

Minimisasi Limbah

  • Menyeleksi bahan-bahan yang kurang menghasilkan limbah sebelum membelinya.
  • Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia.
  • Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada secara kimiawi.
  • Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah seperti dalam kegiatan perawatan dan kebersihan.
  • Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun.
  • Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan.
  • Menggunakan bahan-bahan yang diproduksi lebih awal untuk menghindari kadaluarsa.
  • Menghabiskan bahan dari setiap kemasan.
  • Mengecek tanggal kadaluarsa bahan-bahan pada saat diantar oleh distributor.

 

Pemilahan, Pewadahan, Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang

  • Dilakukan pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.
  • Tempat pewadahan limbah medis padat :
    • Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass.
    • Di setiap sumber penghasil limbah medis harus tersedia tempat pewadahan yang terpisah dengan limbah padat non-medis.
    • Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang sehari apabila 2/3 bagian telah terisi limbah.
    • Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus (safety box) seperti botol atau karton yang aman.
    • Tempat pewadahan limbah medis padat infeksius dan sitotoksik yang tidak langsung kontak dengan limbah harus segera dibersihkan dengan larutan disinfektan apabila akan dipergunakan kembali, sedangkan untuk kantong plastik yang telah dipakai dan kontak langsung dengan limbah tersebut tidak boleh digunakan lagi.
  • Bahan atau alat yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi meliputi pisau bedah (scalpel), jarum hipodermik, syringes, botol gelas, dan kontainer.
  • Alat-alat lain yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi adalah radionukleida yang telah diatur tahan lama untuk radioterapi seperti pins, needles, atau seeds.
  • Apabila sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi dengan ethylene oxide, maka tanki reactor harus dikeringkan sebelum dilakukan injeksi ethylene oxide. Oleh karena gas tersebut sangat berbahaya maka sterilisasi harus dilakukan oleh petugas yang terlatih. Sedangkan sterilisasi dengan glutaraldehyde lebih aman dalam pengoperasiannya tetapi kurang efektif secara mikrobiologi.
  • Upaya khusus harus dilakukan apabila terbukti ada kasus pencemaran spongiform encephalopathies.

Tempat Penampungan Sementara

  • Bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya harus membakar limbahnya selambat-lambatnya 24 jam.
  • Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator, maka limbah medis padatnya harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain atau pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan pemusnahan selambat-lambatnya 24 jam apabila disimpan pada suhu ruang.

Transportasi

  • Kantong limbah medis padat sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut harus diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup.
  • Kantong limbah medis padat harus aman dari jangkauan manusia maupun binatang.
  • Petugas yang menangani limbah, harus menggunakan alat pelindung diri yang terdiri :
    1. Topi/helm;
    2. Masker;
    3. Pelindung mata;
    4. Pakaian panjang (coverall);
    5. Apron untuk industri;
    6. Pelindung kaki/sepatu boot; dan
    7. Sarung tangan khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves).

Pengolahan, Pemusnahan dan Pembuangan Akhir Limbah Padat

Limbah Infeksius dan Benda Tajam

  1. Limbah yang sangat infeksius seperti biakan dan persediaan agen infeksius dari laboratorium harus disterilisasi dengan pengolahan panas dan basah seperti dalam autoclave sedini mungkin. Untuk limbah infeksius yang lain cukup dengan cara disinfeksi.
  2. Benda tajam harus diolah dengan insinerator bila memungkinkan, dan dapat diolah bersama dengan limbah infeksius lainnya. Kapsulisasi juga cocok untuk benda tajam.
  3. Setelah insinerasi atau disinfeksi, residunya dapat dibuang ke tempat pembuangan B3 atau dibuang ke landfill jika residunya sudah aman.

Limbah Farmasi

  1. Limbah farmasi dalam jumlah kecil dapat diolah dengan insinerator pirolitik (pyrolytic incinerator), rotary kiln, dikubur secara aman, sanitary landfill, dibuang ke sarana air limbah atau inersisasi. Tetapi dalam jumlah besar harus menggunakan fasilitas pengolahan yang khusus seperti rotary kiln, kapsulisasi dalam drum logam, dan inersisasi.
  2. Limbah padat farmasi dalam jumlah besar harus dikembalikan kepada distributor, sedangkan bila dalam jumlah sedikit dan tidak memungkinkan dikembalikan, supaya dimusnahkan melalui insinerator pada suhu di atas 1.000 0

Limbah Sitotoksis

  1. Limbah sitotoksis sangat berbahaya dan tidak boleh dibuang dengan penimbunan (landfill) atau ke saluran limbah umum.
  2. Pembuangan yang  dianjurkan  adalah dikembalikan ke perusahaan penghasil atau distributornya, insinerasi pada suhu tinggi, dan degradasi kimia. Bahan yang belum dipakai dan kemasannya masih utuh karena kadaluarsa harus dikembalikan ke distributor apabila tidak ada insinerator dan diberi keterangan bahwa obat tersebut sudah kedaluarsa atau tidak lagi dipakai.
  3. Insinerasi pada suhu tinggi sekitar 1.200ºC dibutuhkan untuk menghancurkan semua bahan sitotoksik. Insinerasi pada suhu rendah dapat menghasilkan uap sitotoksik yang berbahaya ke udara.
  4. Insinerator pirolitik dengan 2 (dua) tungku pembakaran pada suhu 1.200ºC dengan minimum waktu tinggal 2 detik atau suhu 1.000ºC dengan waktu tinggal 5 detik di tungku kedua sangat cocok untuk bahan ini dan dilengkapi dengan penyaring debu.
  5. Insinerator juga harus dilengkapi dengan peralatan pembersih gas. Insinerasi juga memungkinkan dengan rotary kiln yang didesain untuk dekomposisi panas limbah kimiawi yang beroperasi dengan baik pada suhu di atas 850ºC.
  6. Insinerator dengan satu tungku atau pembakaran terbuka tidak tepat untuk pembuangan limbah sitotoksis.
  7. Metode degradasi kimia yang mengubah senyawa sitotoksik menjadi senyawa tidak beracun dapat digunakan tidak hanya untuk residu obat tapi juga untuk pencucian tempat urin, tumpahan dan pakaian pelindung.
  8. Cara kimia relatif mudah dan aman meliputi oksidasi oleh kalium permanganat (KMnO4) atau asam sulfat (H2SO4), penghilangan nitrogen dengan asam bromida, atau reduksi dengan nikel dan aluminium.
  9. Insinerasi maupun degradasi kimia tidak merupakan solusi yang sempurna untuk pengolahan limbah, tumpahan atau cairan biologis yang terkontaminasi agen antineoplastik. Oleh karena itu, rumah sakit harus berhati-hati dalam menangani obat sitotoksik.
  10. Apabila cara insinerasi maupun degradasi kimia tidak tersedia, kapsulisasi atau inersisasi dapat dipertimbangkan sebagai cara yang dapat dipilih.

Limbah Bahan Kimiawi

Pembuangan Limbah Kimia Biasa

Limbah kimia biasa yang tidak bisa didaur ulang seperti gula, asam amino, dan garam tertentu dapat dibuang ke saluran air kotor. Namun demikian, pembuangan tersebut harus memenuhi persyaratan konsentrasi bahan pencemar yang ada seperti bahan melayang, suhu, dan pH.

Pembuangan Limbah Kimia Berbahaya Dalam Jumlah Kecil

Limbah bahan berbahaya dalam jumlah kecil seperti residu yang terdapat dalam kemasan sebaiknya dibuang dengan insinerasi pirolitik, kapsulisasi, atau ditimbun (landfill).

Pembuangan limbah kimia berbahaya dalam jumlah besar

Tidak ada cara pembuangan yang aman dan sekaligus murah untuk limbah berbahaya. Pembuangannya lebih ditentukan kepada sifat bahaya yang dikandung oleh limbah tersebut. Limbah tertentu yang bisa dibakar seperti banyak bahan pelarut dapat diinsinerasi. Namun bahan pelarut dalam jumlah besar seperti pelarut halogenida yang mengandung klorin atau florin tidak boleh diinsinerasi kecuali insineratornya dilengkapi dengan alat pembersih gas.

  1. Cara lain  adalah   dengan  mengembalikan   bahan   kimia berbahaya tersebut ke distributornya yang akan menanganinya dengan aman, atau dikirim ke negara lain yang mempunyai peralatan yang cocok untuk mengolahnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan limbah kimia berbahaya:

  • Limbah berbahaya yang komposisinya berbeda harus dipisahkan untuk menghindari reaksi kimia yang tidak diinginkan.
  • Limbah kimia berbahaya dalam jumlah besar tidak boleh ditimbun karena dapat mencemari air tanah.
  • Limbah kimia disinfektan dalam jumlah besar tidak boleh dikapsulisasi karena sifatnya yang korosif dan mudah terbakar.
  • Limbah padat bahan kimia berbahaya cara pembuangannya harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada instansi yang berwenang.
  • Limbah dengan Kandungan Logam Berat Tinggi
    1. Limbah dengan kandungan mercuri atau kadmium tidak boleh dibakar atau diinsinerasi karena berisiko mencemari udara dengan uap beracun dan tidak boleh dibuang ke landfill karena dapat mencemari air tanah.
    2. Cara yang disarankan adalah dikirim ke negara yang mempunyai fasilitas pengolah limbah dengan kandungan logam berat tinggi. Bila tidak memungkinkan, limbah dibuang ke tempat penyimpanan yang aman sebagai pembuangan akhir untuk limbah industri yang berbahaya. Cara lain yang paling sederhana adalah dengan kapsulisasi kemudian dilanjutkan dengan Bila hanya dalam jumlah kecil dapat dibuang dengan limbah biasa.
  • Kontainer Bertekanan
    1. Cara yang terbaik untuk menangani limbah kontainer bertekanan adalah dengan daur ulang atau penggunaan kembali. Apabila masih dalam kondisi utuh dapat dikembalikan ke distributor untuk pengisian ulang gas. Agen halogenida dalam bentuk cair dan dikemas dalam botol harus diperlakukan sebagai limbah bahan kimia berbahaya untuk pembuangannya.
    2. Cara pembuangan yang tidak diperbolehkan adalah pembakaran atau insinerasi karena dapat meledak.
  • Kontainer yang masih utuh

Kontainer-kontainer yang harus dikembalikan ke penjualnya adalah:

  • Tabung atau silinder nitrogen oksida yang biasanya disatukan dengan peralatan anestesi.
  • Tabung atau silinder etilin oksida yang biasanya disatukan dengan peralatan sterilisasi
  • Tabung bertekanan untuk gas lain seperti oksigen, nitrogen, karbon dioksida, udara bertekanan, siklopropana, hidrogen, gas elpiji, dan asetilin.
  • Kontainer yang sudah rusak

Kontainer yang rusak tidak dapat diisi ulang harus dihancurkan setelah dikosongkan kemudian baru dibuang ke landfill.

  • Kaleng aerosol

Kaleng aerosol kecil harus dikumpulkan dan dibuang bersama dengan limbah biasa dalam kantong plastik hitam dan tidak untuk dibakar atau diinsinerasi. Limbah ini tidak boleh dimasukkan ke dalam kantong kuning karena akan dikirim ke insinerator. Kaleng aerosol dalam jumlah banyak sebaiknya dikembalikan ke penjualnya atau ke instalasi daur ulang bila ada.

  • Limbah Radioaktif

    1. Pengelolaan limbah radioaktif yang aman harus diatur dalam kebijakan dan strategi nasional yang menyangkut peraturan, infrastruktur, organisasi pelaksana dan tenaga yang terlatih.
    2. Setiap rumah sakit yang menggunakan sumber radioaktif yang terbuka untuk keperluan diagnosa, terapi atau penelitian harus menyiapkan tenaga khusus yang terlatih khusus di bidang radiasi.
    3. Tenaga tersebut bertanggung jawab dalam pemakaian bahan radioaktif yang aman dan melakukan pencatatan.
    4. Instrumen kalibrasi yang tepat harus tersedia untuk monitoring dosis dan kontaminasi. Sistem pencatatan yang baik akan menjamin pelacakan limbah radioaktif dalam pengiriman maupun pembuangannya dan selalu diperbarui datanya setiap waktu.
    5. Limbah radioaktif harus dikategorikan dan dipilah berdasarkan ketersediaan pilihan cara pengolahan, pengkondisian, penyimpanan, dan pembuangan. Kategori yang memungkinkan adalah:
      • Umur paruh (half-life) seperti umur pendek (short-lived), (misalnya umur paruh <100 hari), cocok untuk penyimpanan pelapukan,
      • Aktifitas dan kandungan radionuklida,
      • Bentuk fisika dan kimia,
      • Cair : berair dan organik,
      • Tidak homogen (seperti mengandung lumpur atau padatan yang melayang),
      • Padat : mudah terbakar/tidak mudah terbakar (bila ada) dan dapat dipadatkan/tidak mudah dipadatkan (bila ada),
      • Sumber tertutup atau terbuka seperti sumber tertutup yang dihabiskan,
      • Kandungan limbah seperti limbah yang mengandung bahan berbahaya (patogen, infeksius, beracun).

Setelah pemilahan, setiap kategori harus disimpan terpisah dalam kontainer, dan kontainer limbah tersebut harus :

  • Secara jelas diidentifikasi,
  • Ada simbol radioaktif ketika sedang digunakan
  • Sesuai dengan kandungan limbah,
  • Dapat diisi dan dikosongkan dengan aman,
  • Kuat dan saniter.

Informasi yang harus dicatat pada setiap kontainer limbah :

  • Nomor identifikasi,
  • Radionuklida,
  • Aktifitas (jika diukur atau diperkirakan) dan tanggal pengukuran,
  • Asal limbah (ruangan, laboratorium, atau tempat lain),
  • Angka dosis permukaan dan tanggal pengukuran,
  • Orang yang bertanggung jawab.
  1. Kontainer untuk limbah padat harus dibungkus dengan kantong plastik transparan yang dapat ditutup dengan isolasi plastik.
  2. Limbah padat radioaktif dibuang sesuai dengan persyaratan teknis dan peraturan perundang-undangan yang berlaku (PP Nomor 27 Tahun 2002) dan kemudian diserahkan kepada BATAN untuk penanganan lebih lanjut atau dikembalikan kepada negara distributor. Semua jenis limbah medis termasuk limbah radioaktif tidak boleh dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah domestik (landfill) sebelum dilakukan pengolahan terlebih dahulu sampai memenuhi persyaratan.

Limbah Padat Non Medis

Pemilahan Limbah Padat Non Medis

  • Dilakukan pemilahan limbah padat non medis antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali
  • Dilakukan pemilahan limbah padat non medis antara limbah basah dan limbah kering

Tempat Pewadahan Limbah Padat Non Medis

  • Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass.
  • Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan.
  • Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan kebutuhan.
  • Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3 x 24 jam atau apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang penganggu.

Pengangkutan

Pengangkutan limbah padat domestik dari setiap ruangan ke tempat  penampungan sementara menggunakan troli tertutup.

Tempat Penampungan Limbah Padat Non Medis Sementara

  • Tersedia tempat penampungan limbah padat non medis sementara dipisahkan antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Tempat tersebut tidak merupakan sumber bau, dan lalat bagi lingkungan sekitarnya dilengkapi saluran untuk cairan lindi.
  • Tempat penampungan sementara limbah padat harus kedap air, bertutup dan selalu dalam keadaan tertutup bila sedang tidak diisi serta mudah dibersihkan.
  • Terletak pada lokasi yang mudah dijangkau kendaraan pengangkut limbah padat.
  • Dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam.

Pengolahan Limbah Padat

Upaya untuk mengurangi volume, merubah bentuk atau memusnahkan limbah padat dilakukan pada sumbernya. Limbah yang masih dapat dimanfaatkan hendaknya dimanfaatkan kembali untuk limbah padat organik dapat diolah menjadi pupuk.

Lokasi Pembuangan Limbah Padat Akhir

Limbah padat umum (domestik) dibuang ke lokasi pembuangan akhir yang dikelola oleh pemerintah daerah (Pemda), atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Limbah Cair

Limbah cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan penyimpanannya.

  1. Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup, kedap air, dan limbah harus mengalir dengan lancar, serta terpisah dengan saluran air hujan.
  2. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama secara kolektif dengan bangunan di sekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis, apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan.
  3. Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah yang dihasilkan.
  4. Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus dilengkapi/ditutup dengan grill.
  5. Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), bila tidak mempunyai IPAL harus dikelola sesuai ketentuan yang berlaku melalui kerjasama dengan pihak lain atau pihak yang berwenang.
  6. Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap bulan sekali untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  7. Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena zat radioaktif, pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan BATAN.
  8. Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan.

Limbah Gas

  1. Monitoring limbah gas berupa NO2, SO2, logam berat, dan dioksin dilakukan minimal satu kali setahun.
  2. Suhu pembakaran minimum 1.000oC untuk pemusnahan bakteri patogen, virus, dioksin, dan mengurangi jelaga.
  3. Dilengkapi alat untuk mengurangi emisi gas dan debu.
  4. Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang banyak memproduksi gas oksigen dan dapat menyerap debu.

Pengelolaan limbah medis rumah sakit secara rinci mengacu pada pedoman pengelolaan limbah medis sarana pelayanan kesehatan.

Referensi :

  1. Permenkes No 27 Tahun 2017 tentang PPI di Fasyankes
Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

SNARS 2018 dalam Regulasi Perumahsakitan di Indonesia

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit 2018 : Dalam Regulasi Perumahsakitan di Indonesia

 

KARS masih satu satunya penyelenggara akreditasi, bisa dimungkinkan ada penyelenggara akreditasi Rumah Sakit dalam negeri selain KARS dalam kebijakan Kemenkes RI.

Kementrian Kesehatan RI telah menetapkan regulasi perumahsakitan kaitan dalam akreditasi dalam Permenkes no 34 tahun 2017 untuk memperbaiki regulasi sebelumnya dalam Permenkes 12 tahun 2012. Dalam peraturan tersebut, dilakukan pengaturan akreditasi bertujuan untuk :

  1. meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit dan melindungi keselamatan pasien Rumah Sakit;
  2. meningkatkan perlindungan bagi masyarakat, sumber daya manusia di Rumah Sakit dan Rumah Sakit sebagai institusi;
  3. mendukung program Pemerintah di bidang kesehatan; dan
  4. meningkatkan profesionalisme Rumah Sakit Indonesia di mata Internasional

dalam pasal 4 Akreditasi dilaksanakan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang berasal dari dalam negeri dalam hal ini adalah Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) sebagai satu satunya penyenggara di Indonesia sesuai dengan No 417 tahun 2011 tentang komisi akreditasi rumah sakit. Dalam Permenkes no 34 tahun 2017 dimungkinkan bahwa kementrian dapat juga menetapkan Komisi Akreditasi untuk Rumah Sakit diluar KARS atau dimungkinkan bila dibentuk badan Independent Akreditasi Rumah Sakit yang lain.

Pemerintah juga mengakui penyelenggara akreditasi dari luar negeri. Penyelenggara akreditasi diwajibkan merupakan badan independen penyenggara akreditasi yang di sertifikasi oleh ISQua atau International Society for Quality in Health care. Namun penyelenggara Akreditasi dari luar negeri perlu di SK kan oleh kementrian sebelum melakukan kegiatan operasional perumahsakitan di Indonesia.

Lembaga independent penyelenggara akreditasi mempunyai istrumen penilaian yang berbeda beda sehingga standar yang dimiliki pun tidak lah sama, sehingga permenkes tersebut mengakomodasi badan penyelenggara akreditasi memiliki standar tersendiri yang bisa jadi tidak sama.

Pada pasal 3 Permenkes 417 tahun 2011 pada ayat 3 “KARS dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia dan Komite Akreditasi Nasional dalam melakukan monitoring dan evaluasi kinerja rumah sakit pasca akreditasi dan untuk membina rumah sakit dalam upaya meningkatkan mutu layanannya ” menjadi pertanyaan bersama apa yang dimaksud dengan peran Komite Akreditasi Nasional (KAN) dalam bidang perumahsakitan di Indonesia yang dalam hal ini bertanggungjawab kepada Presiden RI melalui Badan Standarisasi Nasional.

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , , , , ,

Sistem Survey Akreditasi Rumah Sakit 2018

PERPANJANGAN STATUS AKREDITASI

KARS mengingatkan rumah sakit untuk mengajukan survei ulang sebelum tanggal jatuh tempo akreditasi tiga tahunan. Dan rumah sakit harus mengajukan permintaan survei ulang kepada KARS. KARS akan menjadwalkan survei ulang tersebut, dengan berusaha menyesuaikan waktu survei dengan akhir siklus akreditasi tiga tahunan. Status akreditasi rumah sakit secara otomatis akan gugur bila pelaksanaan survei ulang melampaui batas berlakunya status akreditasi.

SISTEM REMEDIAL AKREDITASI RUMAH SAKIT 2018

  1. Remedial dapat dilaksanakan pada rumah sakit yang belum mencapai paripurna
  2. Remedial dapat dilakukan pada bab yang kurang dari 80% namun diatas 60%.
  3. Pelaksanaan remedial berdasarkan permohonan pengajuan oleh rumahsakit.
  4. Rumah sakit dapat mengajukan remedial, bila minimal ada 4 bab yang lebih dari 80%.
  5. Pengajuan remedial paling lambat 1 (satu) bulan setelah pemberitahuan hasil akreditasi diterima.
  6. Remedial dilakukan paling lambat 6 (enam) bulan sejak tanggal pemberitahuan oleh KARS.
  7. Jumlah surveior dan hari survei ditetapkan berdasarkan jumlah bab yang dilakukan remedial.
  8. Rumah sakit berhak untuk tidak mengajukan remedial, walaupun mempunyai peluang untuk remedial.
  9. Remedial wajib dilakukan bila hasil survei akreditasi sama atau lebih rendah dua kali berturut-turut (kecuali paripurna). Bila tidak mengajukan remedial maka dinyatakan tidak lulus akreditasi.

SISTEM VERIFIKASI AKREDITASI

  1. Survei verifikasi 1 dilaksanakan satu tahun setelah tanggal survei yang sudah dilaksanakan. Surveior mempunyai tugas melakukan verifikasi Perencanaan Perbaikan Strategis (PPS) yang sudah dilaksanakan dan yang belum dilaksanakan
  2. Survei verifikasi 2 dilaksanakan dua tahun setelah tanggal survei yang sudah dilaksanakan. Surveior mempunyai tugas melakukan verifikasi PPS yang sudah dilaksanakan dan yang belum dilaksanakan serta persiapan akreditasi selanjutnya.
  3. Tanggal penetapan tanggal survei verifikasi dapat dirubah, bila tanggal tersebut adalah hari minggu atau hari libur nasional.
  4. Bila rumah sakit menunda atau tidak melaksanakan survei verifikasi, maka sertifikat akreditasi ditarik kembali.

SISTEM SURVEY TERFOKUS

Survey terfokus dilaksanakan apabila :

  1. Berdasarkan laporan dari rumah sakit atau dari informasi lain yang akurat, ada kejadian sentinel di rumah sakit.
  2. Berdasarkan laporan dari rumah sakit atau informasi dari Kementerian Kesehatan, ada peningkatan kelas dan atau penambahan pelayanan dan atau penambahan bangunan lebih dari 25%.
  3. Berdasarkan banding (appeal) yang perlu ditindaklanjuti
  4. Adanya pengaduan terkait dengn mutu pelayanan rumah sakit.

KEBIJAKAN SURVEY BANDING

 Rumah sakit dapat mengajukan banding (appeal) dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Banding hanya boleh diajukan satu kali untuk setiap kegiatan survei akreditasi
  2. Membayar biaya banding sebesar biaya survei akreditasi
  3. Rumah sakit memiliki hak untuk mengajukan banding atas keputusan akreditasi yang dianggap merugikan. Jika berdasarkan survei atau survei terfokus, atau terjadi situasi yang mengancam nyawa dan keselamatan, terdapat keputusan untuk menolak atau menarik akreditasi, maka rumah sakit memiliki waktu 10 hari sejak diterimanya rekomendasi surveior secara resmi dari KARS atau pemberitahuan penarikan akreditasi, untuk memberi tahu KARS secara tertulis atau melalui email, mengenai niatnya untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut.
  4. Rumah sakit kemudian memiliki waktu tambahan 30 hari untuk mengajukan data dan informasi yang dapat diterima untuk mendukung pengajuan bandingnya ke pihak KARS, secara tertulis atau melalui email
  5. Ketua Eksekutif KARS menugaskan Dewan Penilai untuk meninjau dan mengevaluasi materi yang diserahkan dalam waktu 30 hari dari penerimaan, dan Dewan Penilai dapat meminta dokumen dan bahan tambahan. Dewan Penilai meninjau dokumen banding yang terkait, menyiapkan analisis, dan menyajikan rekomendasinya pada Ketua Eksekutif KARS
  6. KARS akan melakukan survei terfokus untuk bab yang diajukan banding
  7. Rumah Sakit menanggung biaya akomodasi dan transport surveior
  8. Surveior memberikan laporan hasil survei terfokus.
  9. Bila hasil survei terfokus sama dengan atau berkurang dari hasil survei sebelumnya, maka banding tidak diterima dan status akreditasi seperti semula yang ditetapkan, dan biaya biaya banding sebesar biaya survei akreditasi tidak dikembalikan.
  10. Bila hasil survei terfokus lebih baik dan dapat mencapai nilai 80%, maka banding diterima dan status akreditasi dapat berubah sesuai hasil survei terfokus. Atas kondisi ini KARS akan mengembalikan biaya banding tersebut ke rumah sakit.
Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , ,

Sertifikat akreditasi dinyatakan tidak berlaku atau dapat ditarik

Sertifikat akreditasi rumah sakit bisa di cabut apabila :

  1. Bila habismasaberlakunya
  2. Bila ada kejadian sentinel berulang yang sama di rumah sakit dalam kurun waktu 3 bulan.
  3. Bila jenis pelayanan rumah sakit berubah kategori yaitu dari rumah sakit khusus menjadi rumah sakit umum.
  4. Bila lokasi rumah sakit berpindah
  5. Bila hal yang harus dilaporkan tetapi tidak dilaporkan kepada KARS

Referensi :

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1, Komisi Akreditasi Rumah Sakit, tahun 2017

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , , , ,

Tindak Lanjut Pasca Penilaian Akreditasi Rumah Sakit

Pihak KARS membutuhkan komunikasi berkesinambungan sepanjang siklus akreditasi tiga tahunan antara rumah sakit yang telah terakreditasi, untuk memastikan bahwa rumah sakit terus memenuhi persyaratan akreditasi setelah dinyatakan terakreditasi.

Survei ulang dilaksanakan sebelum habis masa berlakunya sertifikat akreditasi. Pengajuan permohonan survei ulang dilakukan paling lambat 3 bulan sebelum habis masa berlakunya sertifikat akreditasi rumah sakit.

Rumah sakit wajib membuat laporan kepada Komisi Akreditasi Rumah Sakit bila terjadi hal-hal sebagai berikut :

Kejadian sentinel di rumah sakit.

Laporan diterima paling lambat 5 x 24 jam, dan disertai RCA paling lambat 45 hari. Laporan dikirim melalui email ke info@kars.or.id. Bila diperlukan, KARS akan melakukan evaluasi ke rumah sakit, untuk melakukan verifikasi :

Kejadian sentinel yang harus dilaporkan antara lain :

  1. kematian yang tak terduga, sebagai contoh, kematian yang tidak berhubungan dengan proses alami penyakit pasien atau penyakit yang mendasari (misalnya kematian akibat infeksi pascaoperasi atau emboli paru);
  2. kematianbayicukupbulan;
  3. bunuhdiri;
  4. kehilangan fungsi tubuh utama yang permanen yang tidak berhubungan dengan proses alami penyakit pasien atau penyakit yang mendasari;
  5. operasiyangsalahlokasi,salahprosedur,salahpasien
  6. transmisi penyakit kronis atau fatal akibat transfusi darah atau produk darah atau transplantasi organ atau jaringan yang terkontaminasi;
  7. penculikanbayiataubayidipulangkandenganorangtuayangsalah;dan
  8. pemerkosaan, kekerasan di tempat kerja seperti penyerangan (menyebabkan kematian atau kehilangan fungsi tubuh secara permanen), atau pembunuhan (sengaja membunuh) seorang pasien, anggota staf, tenaga medis, pengunjung, atau vendor ketika di lokasi di rumah sakit

Kejadian tersebut diatas disebut sentinel dan perlu segera dilaporkan kepada Tim Keselamatan Pasien untuk dilakukan analisis akar masalah (RCA) segera karena perlunya penyelidikan dan respons yang segera. Istilah kejadian sentinel tidak identik dengan kesalahan medis; tidak semua kejadian sentinel terjadi karena kesalahan, dan tidak semua kesalahan menyebabkan kejadian sentinel.

Respons rumah sakit yang tepat terhadap kejadian sentinel termasuk melakukan analisis akar masalah (RCA) yang tepat waktu, teliti, dan dapat dipercaya; mengembangkan rencana kerja yang dirancang untuk melaksanakan perbaikan untuk mengurangi risiko; melaksanakan perbaikan; dan memantau efektivitas perbaikan tersebut. KARS akan meninjau hasil analisis akar masalah (RCA) dan rencana kerja bersama rumah sakit untuk memastikan adanya perbaikan yang akan mengurangi risiko terjadinya kejadian serupa di masa depan.

Selama survei berlangsung, surveior menilai kepatuhan rumah sakit terhadap standar terkait kejadian sentinel. Jika pada saat tim survei menemukan adanya kejadian sentinel yang tidak dilaporkan, maka Direktur rumah sakit diberitahu bahwa kejadian tersebut dilaporkan kepada Ketua Eksekutif KARS untuk ditinjau lebih lanjut.

Bila terjadi peningkatan kelas,

selambat-lambatnya 2 minggu setelah surat keputusan peningkatan kelas diterima rumah sakit harus melaporkan kepada kars.. Laporan dikirim melalui email ke info@kars.or.id.

Bila terjadi perubahan nama rumah sakit,

rumah sakit mengirimkan laporan paling lama 1 bulan setelah perubahan nama rumah sakit ditetapkan. Laporan dikirim melalui email ke info@kars.or.id.

Bila terjadi perubahan kategori/jenis rumah sakit,

rumah sakit mengirimkan laporan paling lama 1 bulan setelah perubahan kategori rumah sakit ditetapkan. Laporan dikirim melalui email ke info@kars.or.id.

Bila terjadi penambahan pelayanan spesialistik/sub spesialistik,

rumah sakit mengirimkan laporan paling lama 1 bulan setelah penambahan pelayanan. Laporan dikirim melalui email ke info@kars.or.id

Bila terjadi penambahan bangunan rumah sakit lebih dari 25 % dari bangunan sekarang,

rumah sakit mengirimkan laporan paling lama 1 bulan setelah penambahan pelayanan. Laporan dikirim melalui email ke info@kars.or.id

Referensi :

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1, Komisi Akreditasi Rumah Sakit, tahun 2017

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , , ,

KEBIJAKAN PENUNDAAN PENETAPAN STATUS AKREDITASI KARS 2018

Kondisi yang menyebabkan rumah sakit berisiko ditolak atau ditunda status akreditasinya adalah sebagai berikut :

  1. Adanya ancaman terhadap keselamatan dan keamanan pasien atau keamanan dan keselamatan staf di dalam rumah sakit. KARS menerima data ini bisa dari laporan Tim Survei, atau dari sumber lain yang akurat. Tindakan yang akan dilakukan KARS adalah melakukan survei terfokus.
  2. Ada staf medis yang tidak mempunyai STR dan atau SIP yang masih berlaku, yang memberikan pelayanan medis.
    Bila ada laporan dari Tim Survei, masih ada staf medis yang belum/habis masa berlakunya/dalam proses perpanjangan STR dan SIP nya maka penetapan status akreditasi ditunda dan KARS memberikan surat keterangan bahwa rumah sakit telah dilakukan survei akreditasi. Bila STR dan SIP sudah ada atau diperbarui, rumah sakit agar melaporkan kepada KARS dengan melampirkan copy STR dan SIP melalui email survei@kars.or.id
  3. Bila rumah sakit memberikan informasi atau data palsu, misalnya Direktur rumah sakit ternyata bukan tenaga medis, ada staf dari rumah sakit lain (bukan pegawai/staf rumah sakit) yang terlibat/membantu wawancara/presentasi pada waktu pelaksanaan survei), peminjaman peralatan medis dari rumah sakit lain, dan pemalsuan data atau informasi lainnya, maka KARS akan melakukan survei terfokus
  4. Izin operasional rumah sakit habis masa berlakunya. Bila ada laporan dari Tim Survei, izin operasional rumah sakit habis masa berlakunya/masih dalam proses perpanjangan maka Status kelulusan rumah sakit ditunda dan KARS memberikan surat keterangan bahwa rumah sakit telah dilakukan akreditasi oleh KARS. Dan bila izin operasional sudah ada, rumah sakit agar melaporkan ke KARS dengan melampirkan izin operasional melalui email survei@kars.or.id
  5. Izin pengolahan limbah cair dan B-3 habis masa berlakunya. Bila ada laporan dari Tim Survei, bahwa izin pengolahan limbah cair dan B-3 habis masa berlakunya/dalam proses perpanjangan maka status kelulusan rumah sakit ditunda dan KARS memberikan surat keterangan bahwa rumah sakit telah dilakukan akreditasi oleh KARS. Dan bila Izin pengolahan limbah cair dan B-3 P sudah ada, rumah sakit agar melaporkan ke KARS dengan melampirkan Izin pengolahan limbah cair dan B-3 melalui email survei@kars.or.id
  6. Rumah Sakit tidak menyampaikan Perencanaan Perbaikan Strategis (PPS) yang layak dalam waktu 1 (satu bulan) setelah mendapatkan pemberitahuan hasil survei akreditasi.

Sekretaris Eksekutif KARS dan surveior dapat mengidentifikasi kondisi-kondisi tersebut selama survei langsung di rumah sakit, selama peninjauan laporan survei atau kegiatan tindak lanjut setelah survei, atau dari pengaduan yang disampaikan terhadap rumah sakit atau setelah penghapusan atau pembatasan lisensi/izin beroperasi oleh badan pengawas nasional atau lainnya atau pihak yang berwenang. Ketika surveior menemukan bahwa kondisi ini dibenarkan dan tidak diselesaikan, Penolakan Akreditasi akan direkomendasikan kepada Ketua Eksekutif KARS

Referensi :

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1, Komisi Akreditasi Rumah Sakit, tahun 2017

Posted in Perumahsakitan | Tagged , , ,